Cerita Pengrajin Batik Kecamatan Proppo, Pamekasan
Ini cerita hasil survei saya mengunjungi kecamatan penghasil batik di Pamekasan, yaitu Kecamatan Proppo.
Perjalanan menuju kecamatan ini, melewati
liuk-liuk kota Pamekasan sampai akhirnya berada di wilayah yang sepi,
jauh dari pusat keramaian. Masuk ke desa melintasi jalan dengan kondisi
bebatuan, yang hanya cukup untuk dua kendaraan berpapasan itupun harus
berhati-hati. Topografi desa yang berbukit membuat mobil menggerung
menanjak. Sepanjang perjalanan tampak area perkebunan dan tanah kosong
kering tak terurus. Masih menanjak, sampailah pada pemandangan
berjejeran kain-kain batik yang sedang dijemur diantara tanah kosong
itu. Warna-warni cantik tersaji di sepanjang mata memandang, mengukuhkan
bahwa desa ini merupakan sentra pengrajin batik.
Sampailah kami ke satu toko yang cukup
besar yang menjajakan batik aneka warna dan motif. Masuk ke belakang
pemukiman, kami menemukan pengrajin batik yang sedang asyik membatik
dengan cantingnya.
Dilihat dari usianya bapak ini berusia 55
tahun keatas. Ia mengerjakan batik di suatu pondokan –lebih mirip
gubuk- dengan alat pembatik seadanya. Kucel dan kotor adalah pemandangan
yang bertolak belakang dengan keindahan batik yang ia buat.
Proses membatik, membuat motif,
menebalkan, kemudian memberi lilin, lalu di cuci untuk menghilangkan
lilin tersebut. Setelah dari si bapak, kain kemudian masuk dapur yang
bisa dilihat pada foto dibawah ini. Tujuannya untuk menghilangkan
lililnnya. Bisa 5-7 kali ia celup dengan zat kimia yang mendidih diatas
tungku. Aroma kimiawi menyengat, mengebul dengan asap-asap dari tungku
yang dibakar dengan batang-batang kering.
Masalah muncul, dari tidak adanya
saluran sanitasi pembuangan zat kimia bekas mencuci batik. Di belakang
“dapur batik “ tersebut tampak bergenangan zat kimia cair yang masih
bewarna. Itu baru satu warga, bagaimana dengan warga yang pengrajin
batik di desa itu ya? Saya membatin. Mereka begitu akrab dengan
pencemaran zat kimia.
Viola..inilah jadinya batik tersebut.
Kalau mau beli batik tulis langsung ke pengrajinnya bisa kena 85-75rb.
Bisa kurang kalau beli min 3 campur motif. Wow.. Oia biasanya kalau
sudah masuk toko harganya sudah ratusan loh…Buat yang mau pesan juga
boleh loh…bawa saja motifnya, lalu minta buat deh ke mereka.Bisa
juga minta tolong ke saya, heehe…Biasanya untuk kebutuhan seragam
kerja, seragam umroh, dsb. Warnanya cantik-cantik, dan rahasia utama
mereka adalah memang dari cara pewarnaan aka, rahasia perusahaan.
Masih tentang memesan batik, bagi yang
memesan ke mereka, mereka tidak mau di dp loh. Bahkan bila si pembeli
nipu, (tidak jadi ambil) mereka tidak mempermasalahkan, karena masih
bisa dijual. Dan selama ini selalu habis. Wow, lagi…
Sayangnya, animo pasar yang tinggi
tidak dibarengi kesejahteraan mereka yang memadai. Klasik, yaa… Mereka
tetap saja begitu-begitu dengan pemukiman ala kadarnya dan sebagainya.
Bahkan konon untuk menebali motif /memberi lilin mereka hanya diupahi
2500 untuk waktu 1,5 jam pengerjaan…hmmm…
Ya begitulah cerita saya tentang
pengrajin batik.Rasanya ini tidak satu-satunya cerita tentang pengrajin
batik. Di pelosok-pelosok tanah air, pengrajinnya masih dalam kondisi
yang jauh dari sejahtera. Padahal dari tangan mereka, batik menjadi
pusaka negri ita yang diakui dunia internasional. Margin penjualan yang
tinggi, sama sekali tidak berdampak pada kualitas hidup mereka…Sampai
kapan? Entahlaahh…*pekerjaan planner





No comments:
Post a Comment