Tuesday, March 3, 2015

Cerita Pengrajin Batik Kecamatan Proppo, Pamekasan

Cerita Pengrajin Batik Kecamatan Proppo, Pamekasan

Ini cerita hasil survei saya mengunjungi kecamatan penghasil batik di Pamekasan, yaitu Kecamatan Proppo.
Perjalanan menuju kecamatan ini, melewati liuk-liuk kota Pamekasan sampai akhirnya berada di wilayah yang sepi, jauh dari pusat keramaian. Masuk ke desa melintasi jalan dengan kondisi bebatuan, yang hanya cukup untuk dua kendaraan berpapasan itupun harus berhati-hati. Topografi desa yang berbukit membuat mobil menggerung menanjak. Sepanjang perjalanan tampak area perkebunan dan tanah kosong kering tak terurus. Masih menanjak, sampailah pada pemandangan berjejeran kain-kain batik yang sedang dijemur diantara tanah kosong itu. Warna-warni cantik tersaji di sepanjang mata memandang, mengukuhkan bahwa desa ini merupakan sentra pengrajin batik.
DSC08031
Sampailah kami ke satu toko yang cukup besar yang menjajakan batik aneka warna dan motif. Masuk ke belakang pemukiman, kami menemukan pengrajin batik yang sedang asyik membatik dengan cantingnya.
Dilihat dari usianya bapak ini berusia 55 tahun keatas. Ia mengerjakan batik di suatu pondokan –lebih mirip gubuk- dengan alat pembatik seadanya. Kucel dan kotor adalah pemandangan yang bertolak belakang dengan keindahan batik yang ia buat.
 batik madura
  batik tulis madura
Proses membatik, membuat motif, menebalkan, kemudian memberi lilin, lalu di cuci untuk menghilangkan lilin tersebut. Setelah dari si bapak, kain kemudian masuk dapur yang bisa dilihat pada foto dibawah ini. Tujuannya untuk menghilangkan lililnnya. Bisa 5-7 kali ia celup dengan zat kimia yang mendidih diatas tungku. Aroma kimiawi menyengat, mengebul dengan asap-asap dari tungku yang dibakar dengan batang-batang kering.
 batik tulis pamekasan
 Masalah muncul, dari tidak adanya saluran sanitasi pembuangan zat kimia bekas mencuci batik. Di belakang “dapur batik “ tersebut tampak bergenangan zat kimia cair yang masih bewarna. Itu baru satu warga, bagaimana dengan warga yang pengrajin batik di desa itu ya? Saya membatin. Mereka begitu akrab dengan pencemaran zat kimia.
Viola..inilah jadinya batik tersebut. Kalau mau beli batik tulis langsung ke pengrajinnya bisa kena 85-75rb. Bisa kurang kalau beli min 3 campur motif. Wow.. Oia biasanya kalau sudah masuk toko harganya sudah ratusan loh…Buat yang mau pesan juga boleh loh…bawa saja motifnya, lalu minta buat deh ke mereka.Bisa juga minta tolong ke saya, heehe…Biasanya untuk kebutuhan seragam kerja, seragam umroh, dsb. Warnanya cantik-cantik, dan rahasia utama mereka adalah memang dari cara pewarnaan aka, rahasia perusahaan.
DSC08027
Masih tentang memesan batik, bagi yang memesan ke mereka, mereka tidak mau di dp loh. Bahkan bila si pembeli nipu, (tidak jadi ambil) mereka tidak mempermasalahkan, karena masih bisa dijual. Dan selama ini selalu habis. Wow, lagi…
Sayangnya, animo pasar yang tinggi tidak dibarengi kesejahteraan mereka yang memadai. Klasik, yaa… Mereka tetap saja begitu-begitu dengan pemukiman ala kadarnya dan sebagainya. Bahkan konon untuk menebali motif /memberi lilin mereka hanya diupahi 2500 untuk waktu 1,5 jam pengerjaan…hmmm…
Ya begitulah cerita saya tentang pengrajin batik.Rasanya ini tidak satu-satunya cerita tentang pengrajin batik. Di pelosok-pelosok tanah air, pengrajinnya masih dalam kondisi yang jauh dari sejahtera. Padahal dari tangan mereka, batik menjadi pusaka negri ita yang diakui dunia internasional. Margin penjualan yang tinggi, sama sekali tidak berdampak pada kualitas hidup mereka…Sampai kapan? Entahlaahh…*pekerjaan planner

No comments:

Post a Comment