Tanggal 13 Juni 2011, siang itu papa menelpon memintaku untuk datang ke Jakarta. Ya memang seminggu sebelumnya papa memang sedang cek jantung di RS terkenal di Jakarta. Tapi aku tak menyangka kalau papa harus menyuruhku menyusulnya. Terlebih,aku tak siap seacra anggaran karena sedang tersedot untuk persiapan stok barang di butik.
“Papa pengen ketemu Kayys” anakku yang baru umur setahun.
“Papa takut ga bisa ketemu Kayys lagi”
“Kamu harus ke Jakarta sekarang juga ya”pintanya. Ya memang terdengar sebuah pinta harap, bukan suruhan. Ia terdengar lirih dengan nafas yang tersengal dan kepayahan.
Setelah 2004 pasang ring pertama,papa memang tidak pernah cek lagi kondisi jantungnya. Dan kini setelah dicek didapati kondisinya yang tak bisa di balon,mesti harus dipasang ring lagi melalui operasi bedah di dada.
Aku baru dapat tiket hari berikutnya itu pun sore. Maka, sepanjang siang itu papa terus menelpon kapan sampai di Jakarta.
Singkat cerita, aku sampai di Jakarta. Seingatku ini kali ketiga dikota paling besar di Indonesia itu. yang pertama, ketika ikut mama dinas. Kedua,ketika menemani papa pasang ring jantung pertama ketika aku kuliah, dan yang ketiga baru sekarang ini.
Seperti tahun yang lalu pula aku lebih senang berdamri,toh begitu turun tol rumah sakit itu bisa segera dicapai. Sesampai di RS,,aku langsung menuju penginapan yang menyatu dengan gedung RS tersebut. Disana sudah ada adikku, Ikhsan dan mamaku yang selama semingguan ini setia menemani papa. Baru ketika papa pindah kamar, disela-sela waktu Kayys kupertemukan dengan opanya.
Sudah lama tak ketemu,tentu saja Kayys takut dan menangis. Perlu penyesuaian untuknya mengenal wajah opanya meski sudah kubiasakan melihat fotonya. Dan Alhamdulillah setelah diselimur macam-macam iapun bisa akrab dengan opa dan utinya.
Di sisi hati kecilku sendiri, mendapati papa yang dihadapanku kini begitu kurus dan menghitam. Ia rapuh dan kepayahan. Ada semangat di matanya meski terkadang tampak putus asa merasakan sakitnya…
Hmm…yaa…lebaran tahun lalu aku sudah menjenguk papa di Bontang. Memang seperti itu keadaannya. Tapi kemarin yang kulihat ia semakin dan semakinL…
Tangisku mungkin sudah lewat, berganti pasrah dan yang terbaik saja untuknya. Mungkin begitu saja doaku untuknya kini. Untuk segala kesempatan yang ada aku hanya ingin berusaha membuatnya bahagia, bangga padaku dan tenang terhadap kehidupan…Amien.. love..love..love you Dad

No comments:
Post a Comment