Monday, May 16, 2011

Pekerjaan Yang Membahagiakan

Kala itu, saya mengerjakan proyek survey kepemilikan rumah sebagai editor. Posisi itu mengharuskan saya bekerja di basecamp dan dekat dengan Supervisor. Karenanya, di sela-sela pekerjaan kami selalu berbincang tentang banyak hal. Sampai suatu saat ia menceritakan tentang kesan pekerjaannya selama ini. Ia merasa pekerjaannya saat ini sudah ideal dan sangat enak. Ia menyebutnya, pekerjaannya ramah untuk dunia akhirat.
“Saya senang sekali dengan pekerjaan saya. Bisa dianggap ini adalah pekerjaan dunia akhirat”
 Istilah baru untuk diri saya, yang kala itu baru lulus kuliah.  Ia tidak menjelaskan panjang lebar pernyataannya barusan. Saya hanya mengamati pekerjaan yang seperti apa yang ia sebut demikian. Lingkup kerjanya bergerak di bidang penelitian dan pendampingan pemerintah daerah, ia juga merangkap sebagai dosen di universitas swasta. Secara materil cukup menjanjikan dan nilai pengabdian pada masyarakat sebagai ladang pahala juga ada. Ia bahagia dalam pekerjaan. Bukan saja terhadap apa yang ia raih dan dapatkan dari pekerjaan tapi juga dari cara ia melaksanakan pekerjaan nampak begitu menikmati dan santai, tak tampak beban di wajahnya.
Sejatinya, pekerjaan adalah sebagai usaha memenuhi kebutuhan hidup, mengeksplorasi kemampuan diri, sarana aktualisasi, upaya mempersiapkan menjadi wirausaha, dan sebagai sarana ibadah. Yang terakhir inilah yang penting. Pekerjaan menghabiskan separuh waktu kita di dunia. Padahal, hidup di dunia tujuannya untuk mempersiapkan mati. Pekerjaan bernilai ibadah antara lain: (1) dimulai dari niat yang ikhlas semata mengharap ridho Allah; (2) berdoa dalam mengawali pekerjaan; (3) ikhtiar, selalu berusaha memberikan yang terbaik; (4) tawakal dalam menghadapi kesulitan bekerja setelah ia berusaha semaksimal mungkin; (5) amanah, melaksanakan pekerjaan sesuai dengan peran yang dititahkan; (6) tulus ikhlas dalam bekerja,bukan dengan gerutu atau mengeluh; (7) menyikapi pekerjaan dengan sabar, tawakal, dan (8) bila memiliki rejeki segera sedekah dan berzakat.
Pekerjaan yang bernilai ibadah adalah pekerjaan yang membahagiakan. Karena seperuh waktu yang dihabiskan sehari-harinya digunakan dengan niat ibadah. Bahwa pekerjaan tidak lepas dari ibadah, dan ibadah tidak lepas dari pekerjaan. Apapun konteks bidang pekerjaannya, pastinya jangan sampai memisahkan urusan duniawi dengan urusan akhirat, sebagaimana perintah Allah “Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain Maksudnya: sebagian ahli tafsir menafsirkan apabila kamu (Muhammad) telah selesai berdakwah maka beribadatlah kepada Allah; apabila kamu telah selesai mengerjakan urusan dunia maka kerjakanlah urusan akhirat, dan ada lagi yang mengatakan: Apabila telah selesai mengerjakan shalat berdoalah( QS. Alam Nasyrah: 7)
Tidak semua orang menempatkan pekerjaannya sebagai ibadah. Sehingga yang terjadi sifat pekerjaannya sangat duniawi, yang saking sibuknya tak punya waktu dan lalai ibadah. Atau, pekerjaan yang orientasi harta semata dan merugi, yaitu pekerjaan yang tidak halal dan pekerjaan yang dihadapi hanya dengan gerutu atau tertekan.  Sebaliknya, ada pula pekerjaan yang hanya mengejar akhirat namun duniawinya menderita. Karena bagaimanapun manusia membutuhkan sarana untuk mencari nafkah, setidaknya tak menjadi beban orang lain.
Pekerjaan sang supervisor sekedar contoh, bahwa idealisme memilih pekerjaan yang selaras dunia dan akhirat ternyata bisa terwujud, bukan sesuatu yang utopis. Demikianlah seharusnya sebuah pekerjaan harus bisa membahagiakan dan perlu disyukuri. Sehingga ia menjalani sisa usianya sebagai pemenang.

No comments:

Post a Comment