Saturday, February 4, 2012

Makasi Udah Mutusin Gue


-Makasih Udah Mutusin Gue-


Pertama kali kenal Andre adalah ketika ia pinjam buku ke teman kosku. Secara tak sengaja aku yang membukakan pintu ketika ia bertamu ke kos. Karena Fita, teman kosku lama tak keluar juga, akhirnya aku yang menemani Andre sambil menunggu Fita menemuinya. Awalnya hanya berbicara biasa saja, namun akhirnya bisa bercanda juga. Berdua saling bertukar hp, berlanjut saling sms, menelepon, dan ketemuan. Karena Andre anaknya asyik diajak ngobrol, bersamanya aku bisa tertawa lepas. Kupikir Andre jutru ingin mendekati Fita. Tapi ketika tiga bulan mendekati, akhirnya ia pun mengungkpakan rasanya padaku dan kami memutuskan untuk menjalin komitmen di atas benih-benih asmara yang menghinggapi hati kami.
Selama perjalanan asmara, Andre sangat baik denganku. Selayaknya orang yang menjalin asmara kami sering melewati hari bersama. Sampai akhirnya konflik pun muncul,
“Aku ingin dijodohkan dengan pilihan orangtuaku”
Saat itu aku sangat sedih dan entah bagaimana menghadapinya. Aku sudah merasa saying dan takut kehilangan Andre. Selama ini kami baik-baik saja, tapi sekali ada konflik mengapa begitu beratnya. Konflik yang sangat mengancam. Kami pun masih menjalaninya saja. Tapi hatiku sudah tak tenang. Hubungan kami menjadi renggang dan hambar.
“Baiknya kita berteman saja Ris”
Kalimat Andre inilah yang menghancurkan hatiku menjadi berkeping-keping. Kok bisa? Katanya cinta, mengapa ia begitu saja memutuskannya? Tak bisakah diperjuangkan sedikit saja? Itu pilihannya, dan semoga bahagia karena itu.
Layaknya orang yang patah hati, aku pun merasakan sakitnya patah hati. Cinta yang bersemayam di cabut secara paksa.
Hari berganti saat aku mulai tegak kembali dan mengukir hari penuh senyum. Pernah suatu kali ketika bertemu dengannya berpapasan, tiba-tiba air mata jatuh begitu saja. Melihatnya saja aku seolah mengingat masa-masa bersama yang indah sekaligus rasa sakit yang dahsyat.
“Andre kemarin jalan dengan si A, jurusan X” lapor temanku beberapa hari ketika aku diketahui teman-temanku sudah tak berhubungan dengan Andre.
“Sebenernya sih dari dulu kami mau bilang ke kamu, kami sering melihatnya mengggonceng perempuan”
“Kemarin waktu di Mall dia juga jalan sama cewek, dan berbeda juga”
“Sejak awal sih aku emang gak suka sama mantanmu itu. keliatane gak serius gitu” komentar temanku lainnya.
Rasanya aku ingin sekali membantah semua penilaian itu, bahwa Andre tidaklah seperti itu. Tapi bila memang benar begitu, aku juga tak bisa berbuat apa-apa. Toh semua sudah berakhir.
Sejak saat itu aku berjanji untuk mengubur semua kisah itu menjadi bagian masa lalu yang tak usah diperbincangkan lagi.
***
Setelah sekian lama tak berhubungan dengannya, aku terkagetkan dengan pertanyaan Mia adik kelasku,
“Mbak kenal Andre?”
“Iya. Kenapa?”
“Tuh orang suka ngerjain aku banget Mbak” katanya disela tawanya. Sepertinya dia akrab sekali dengan Andre. Aku masih biasa saja, sampai akhirnya ia bertanya,
“Siapa sih Mbak mantan pacarnya?” tanyanya dengan nada ingin tahu khas ABG yang baru didekati cowok. Harus kujawab apa?
“Wah gak tahu ya” kataku sambil berlalu begitu saja. Penting ya?
Tapi pertanyaannya sedikit mengusikku. Kenapa nama itu hadir lagi? Oh begitu, dia sekarang sedang mendekati adik kelasku. Setelah tak bertukar kabar aku sudah tak pernah mendengar namanya lagi.

Ditahun kedua pasca putus, aku tenggelam dengan kesibukanku sebagai anggota menwa dan sudah memiliki kekasih baru. Tapi, siang ini mengapa kejadian adik kelasku betanya setahun lalu terjadi lagi,
“Kemarin aku ketemu Andre, Ris di mall sama Erin anak mahasiswa baru” kata Tika.
Secara Erin adalah anak mahasiswa baru kukenal cukup ramah dan memiliki pergaulan yang luas sampai ia mengenal Andre juga yang berbeda jurusan dengannya.
“Oh ya?”
“Keliatannya akrab gitu”
“Gitu ya, kok dia ndeketin anak bawah lagi sih?”
Aku pun terpancing,
“Ngapain coba dia masih beredar aja di mataku? Korbannya sekarang adik kelas ya?”
Kami waktu itu masih tertawa-tawa saja.

Bulan berikutnya, kudengar lagi kabarnya,
“Dia sekarang pacaran sama Anak Fisika”
“Katanya sih sudah tunangan”
“Baguslah”
Aku senang mendengarnya. Walau secercah ada rasa sedih juga, mengapa bukan aku yang bertunangan dengannya? Itu kan impian kami dahulu?
Tapi sudahlah tidak penting.
***

“Mbak” kata Ira, adek kelas yang pernah bertanya siapa mantan Andre menyapaku lagi.
Aku masih asyik dengan lamunanku sembari melihat pemandangan taman kampus terusik dan risih dengan sapaan Ira itu. Kata temanku dia sudah tahu siapa mantannya Andre. Dan sepertinya ia sungkan. Justru itu yang membuatku risih. Gak usah sok segan deh.
Menuju secretariat Menwa aku melewati kantin pusat. Mataku tertuju pada poster dengan warna yang mencolok,
“Andre is The Star”
Pada poster itu terpampang banyak sponsor rokok, dan dari gambarnya seperti akan ada parade band. Entah Andre ‘star’ dimananya.
“Aku ingin menjadi entertainer” kalimat Andre ketika masih bersama dulu. Berarti sekarang, sudah terwujud rupanya.
Andre memang orang yang penuh semangat dan cita-cita. Ia kerap memberiku dorongan untuk juga selalu semangat dalam hidup. Trims Andre.

“Katanya sih udah putus sama anak Fisika” kata Tika yang selalu tahu duluan kabar Andre. Kuakui dia memang anak gaul, sampai berita tentang Andre pun ia ketahui.
“Katanya sih sudah kembali lagi” kata Tika lain waktu lagi.
Kisah Andre dan sepak terjangnya membuat aku merasa. Kenapa sih Andre itu tidak enyah saja? Semuayang selalu kedengar adalah katanya…katanya…

Pernah terpikirkan olehku rasanya tak adil Andre hadir lagi dalam setiap langkahku.  Petualangan hidupnya kerap aku dengar. Tapi, aku dimatanya?
Diawal-awal putus dulu Andre pernah menelepon beberapa kali. Ingin bertemu atau memanggilku dengan nama sayang juga masih ia lakukan.
Tapi aku bergeming. Hatiku rapat tak ada lagi untuknya. Hanya saja ketika namanya menghegemoni di hidupku, aku mesti berpikir, kenapa Andre hadir? Aku dulu juga ingin mendekati teman-teman jurusannya menjadi pacar temannya kalau bisa. Itu semua hanya ingin menunjukkan bahwa aku juga bisa beredar dihidup Andre. Tapi semua kuurungkan karena aku terlanjur sibuk dengan kisah asmaraku sendiri.

“Ris, jangan kaget ya”
“Apa?”
“Tika jadian ma Andre”
Aku menelan ludahku sendiri. Buset…Kali ini yang didekati Andre adalah teman sahabatku sendiri temang kongkow bareng.

Antara ada rasa jelous walaupun sedikit. Marah, karena aku terakhir tahu dibanding teman-temanku lainnya. Itu juga sudah berumur sebulan lalu jadiannya. Juga kasihan sama Tika. Dia bakal dimainin sama Andre.

“Sori ya Ris kamu gak pa-pa kan?” permintaan maaf Nia, temanku yang lain, karena menyembunyikan sesuatu denganku. Terlebih ini tentang hal yang pernah menjadi begitu sensitive denganku.
“Gak pa-pa kok. Biasa aja”. Memang sudah tidak ada rasa, tapi tetap aneh saja rasanya.
“Tapi Ris, kan kasian si Tika. Tar dia dimainin ma Andre gimana?”
“Ya resiko Tika kan?”
“Kok kamu ngomong gitu sih Ris?”
“Loh terus kita mesti gimana?”
“Sebenernya kita gak suka Ris, Tika jadian ma Andre tapi si Tika tuh gak bisa dikasih tahu”
“Mungkin kamu Ris yang bisa kasih tahu dia”
“Eh plis ya, dia aja gak cerita ke aku dia jadian ma Andre kok aku tiba-tiba sok nasehatin gitu. Gak kali makasih”
“Demi persahabatan kita dong Ris”
“Tahu. Tapi dia udah gak anggap aku sahabat. Terus aku harus sok jadi sahabat hanya karena aku mantan pacarnya”
“Gak lagi”kataku pendek.
“Si Tika mang gak bisa dikasih tahu “

Suara hp Tias bergetar.
“Dari Tika “katanya
“Kenapa Tik?”
“Hah?”
“Terus?”
 “Ya udah ya kamu sabar aja….”

Tika barusan bilang, dia denger gosip Andre lagi PDKT ma anak kedokteran di Universitas laen. Semua jadi menatap ke arahku.
“Ayolah Risa…bantu si Tika”
***

Belum sampai aku ke kamar kos Fita sudah menggiringku duluan ke kamarnya,
“Mau tahu sesuatu nggak?” tembak Fita dengan nada ragu.
“Hm? Apaan?” tanyaku sambil memperbaiki duduk di kasurnya.
“Maaf ya, mungkin baru sekarang ceritanya. Ini tentang Ratna, teman kos kita dulu. Jadi, si Ratna itu sebenarnya pacaran sama mantan kamu, Andre”
“Oh..Terus?”
Maksudku, ngapain juga cerita segala. Setelah Tika. Sekarang Ratna, sebenarnya sudah tidak ada hubungannya lagi sih dengan aku.
“Masalahnya, katanya si Andre udah punya cewek ya?”
“Kayaknya sih gitu” kataku cuek.
“Maaf ya Ris, gak cerita. Si Ratna gak berani bilang, dia berani Cuma curhat sama aku”
“Anak kos lainnya tahu?”
Fita mengangguk.
Satu sisi, ih kenapa aku yang terakhir tahu sih (lagi-lagi)? Teman-teman di kampus melakukan hal yang sama ke aku. Giliran ada masalah seolah aku yang paling tahu Andre, dan aku menjadi pakar tentangnya.
Dongkol juga sebenarnya, kenapa sih Andre? Sekali lagi, masih berada di sekeliling duniaku? Maunya apa sih. Aku saja ingin menghapusnya, sudah itu tak lagi ada namanya dihidupku kecuali silahturahmi biasa. Tapi ini menyangkut teman-temanku sehingga mau tak mau aku ikut berpikir juga.

Siang ini aku dan teman kampus (termasuk Tika juga) ke Royal Plaza. Tak diduga, di pakiran rombongan kami berpapasan dengan Andre yang hari itu menggunakan polo shirt. Tanpa ragu, Tika langsung mendekati dan menggelayut manja di pundak Andre. Kami yang melihat menjadi risih dibuatnya. Baru saja kemarin mendengar kabar tidak enak tentang Andre sekarang bersikap seperti itu. Terlebih masih ada aku di posisi belakang Tika. Memang tidak ada rasa apapun, namun aku tetap tak bisa melihat pemandangan itu dengan biasa. Teman yang lainnya sedang berbisik-bisik menggerombol seolah tahu apa yang kupikirkan. Tidak ada yang berani memecah keheningan duluan.

“Yuk langsung masuk mall aja, gak usah nunggu Tika” kataku riang setelah bisa menguasai keadaan.
Sejak aku tahu Tika dan Andre, kami masih asyik saja berteman meski tak menyinggung tentang apapun itu. Kecuali bila Tika misalnya menerima telepon dari Andre, ia tampak sembunyi-sembunyi menjawabnya. Setelah sekian lama bersikap begitu, tak disangka kejadian bertemu Andre sore ini, membuat aku jujur tak nyaman dengan hubungan Andre dan Tika.

Aku berpamitan kepada temanku untuk ke kamar mandi. Mungkin aku butuh sendiri mungkin teman-temanku juga butuh berbicara bebas. Di kamar mandi aku menenangkan diri.

“Harusnya Tika nggak gitu. Sudah kubilang Andre itu nggak baek kok malah…”
“KAmu gak papa kan Ris?”
“Kenapa mesti pa-pa?” tanyaku sok cuek.

Seminggu berikutnya, pemandangan sumringah Tika menghilang. Ia menangis dihadapan kami. Andre memutuskannya. Semuanya melihat ke arahku, seolah memintaku ikut menenangkan Tika. Sebenarnya malas. Kenapa aku di sangkutkan?

HP ku berdering, telepon dari Ratna. Ia juga sedang menangis. Ia juga baru saja diputus Andre. Teman-temanku melihat ke arahku meminta penjelasan siapa yang menelpon. Mengapa kasusnya sama?
“Ratna, teman kosku dulu, baru saja diputus Andre” jelasku
“Loh Andre selama ini pacaran dengan yang lain”
“Bukannya kita dulu udah pernah cerita”
“Jahat lu Ris gak cerita” kata Tika di sela tangisnya.
“Kamu kan nggak cerita juga Tik”
“….”
“Pertama, aku mendengar dari teman lainnya, kalau kamu selalu membela Andre apapun sikap Andre dibelakangmu. Jadi aku gak mau sia-sia. Terlebih aku ini mantannya. Pasti kamu akan lebih tidak obyektif lagi. Kedua, si Ratna teman kosku itu memang berpacaran dengan Andre. Bahkan selama parade band kemaren, Ratna menemani Abdre terus. “

“Jadi Rat, ia mendekati si Tika juga. Inget nggak si Andre ke Jogja? Ia janji ketemuan gitu sama Tika disana. Jadian disana juga akhirnya. Itu selang beberapa hari setelah parade band itu.”

Tika atau Ratna atau siapalah, aku hanya menceritakan apa yang kutahu selebihnya terserah bagaimana mereka menilai.

Sms dari Ratna,
“Thx ya Ris, gak lagi2 deh ma buaya!!”

Sms dari Tika,
“Trims ya Ris”

Aku sama sekali tak meracuni pikiran mereka. Hanya menceritakan yang sebenarnya. Ah aku sangat ingin mengucapkan terimakasih pada Andre. Karena bagi aku Andre benar-benar tidak penting. Bukan pria impianku. Kalau dulu aku selalu menduga-duga apa masalahku, kurang apa aku mencintai seseorang-karena Tika atau Ratna memberikan alasan yang berbeda mengapa Andre memutuskanku. Kini didepan mataku langsung aku tahu siapa Andre. Kriteria pria yang tak patut menerima cinta putih dariku dan Tuhan telah mengeliminasi dia untukku dengan caraNya.



No comments:

Post a Comment